RSS

CERITA LUCU DI SORE HARI

Hari ini hari yang sibuk. Pukul enam pagi mengantar anak-anak ke sekolah, mengurus ini dan itu, antar anak-anak les musiK dan bimbel, sampai di rumah lagi pukul enam sore. Dalam keadaan masih keringetan dan sibuk menyiapkan makan malam, cucian, beres-beres rumah, tiba-tiba handphoneku berbunyi. Tampak sebuah panggilan dari nomor yang tidak kukenal. Biasanya aku tak mau mengangkat nomor asing. Namun entah kenapa (begoku lagi kambuh kali! ) dalam keadaan masih sibuk ngurus ini dan itu, kok ya mau-maunya aku meladeni panggilan itu!

Lalu terdengar suara seoarng perempuan yang menangis. Katanya sambil terisak-isak;

Perempuan: Maa..aku di kantor polisi…huh u hu…

Deg!

Signal di kepalaku mengatakan sesuatu yang tidak beres.

Aku: Siapa ini?

Lalu seorang laki-laki mangambil alih pembicaraan.

Laki-laki: Halo, Selamat sore, ini dengan ibu Tantrini?

Deg! (lagi)

Aku: Iya benar ini saya. Dengan siapa ini pak?

Laki-laki: Saya AKBP Agus Suryanto. Begini bu, saya sedang bersama anak perempuan ibu sekarang…(sampai di sini aku langsung tersenyum..Oooo mau tipu-tipu ni? Lha wong anakku tiga-tiganya ada di rumah kok!, Tapi dengan isengnya aku malah duduk dan mendengarkan saja ocehannya) Eee… nama anak ibu siapa ini bu? (Nah lho.. mau nipu kok nggak tahu namanya? Tambah wagu!)

Kujawab dengan asal: Dewi pak

AKBP Agus Suryanto: Dewi siapa lengkapnya bu?

Aku : Dewi Lestari pak..(Mohon maaf mbak Dewi Lestari Cuma nama itu yang kuingat saat itu…)

AKBP Agus Suryanto: Begini bu, saudari Dewi Lestari ini tadi ketangkap bersama teman-temannya sedang nyabu. Tapi setelah kami selidiki ternyata saudari Dewi tidak memakainya. Jadi kami mau antarkan Dewi ini ke rumah, namun ada jaminannya bu..

Aku; (pura-pura kaget dan gugup padahal ketawa ngakak dalam hati) Aduh pak..kok bisa sih..? anak saya gimana? Nggak kenapa-napa kan? Sekarang lagi dimana?

AKBP Agus Suryanto; (langsung memotong dengan sangat kasar) Ibu..diam dulu!! jangan ngoceh aja! Ini serius bu, pulsa saya juga terbatas kalau ibu ngoceh terus kita tidak bisa menyelesaikan masalah ini

Aku :Baik pak (preet…!)

AKBP Agus Suryanto: Jadi gini bu.. kami mau bantu ibu untuk menutup kasus ini karena ini masalah serius, bisa melebar kemana-mana. Ibu kan tahu pemasok narkoba sekarang ini sedang banyak diburu polisi. Karena anak ibu bukan pemakai jadi kami bisa bantu melepaskannya dari masalah ini, namun ada jaminannya bu..

Aku : (masih dengan suara gugup) Apa itu pak?

AKBP Agus Suryanto: Ibu siapkan dana 40 juta untuk jaminan anak ibu ini..

Aku: (kupotong dengan teriakan histeris campur bingung, tentu saja acting ajaa…hi hi) Apaaaaa…??? Banyak sekali pak…? Saya gak ada duit segitu..

AKBP Agus Suryanto: (membentak dengan kasar) Ibu jangan main-main. Ini masalah berat. Jaminannya anak ibu sendiri. Kami tidak bisa bantu apa-apa kalau ibu tidak siapkan dananya!

Aku: (memelas) Toloooong pak… bener saya gak ada duit..tolong banget pak…jangan segituuuuu..

AKBP Agus Suryanto: Jadi yang ada di tangan ibu sekarang berapa?

Aku: yaa paling cuma satu juta paakkk..

AKBP Agus Suryanto: (gantian dia yang histeris tapi dengan perasaan terhina) APAAAAAA…??? Duit sejuta buat apa bu jaman sekarang ini??? Ini masalah narkoba bu, jangan main-main!!!

(batinku gondok juga..duit sejuta juga banyak bro…bisa buat beli mie instant dua puluh kardus!! Enak aja bilang buat apa…buat apa…!!)

Aku: (masih acting) Tapi saya bener-bener cuma ada itu paaakkkk.. tolonglah sayaaaa…

AKBP Agus Suryanto: Baik-baik..saya juga nggak tega denger wanita menangis (PREEEETTT…!!!)

Gini aja ibu tolong catet nomor-nomor yang saya kasih ini. Cepet ya, pulsa saya terbatas ni!

(Lalu dia mulai menyebutkan deretan angka-angka)

Aku: Sebentar pak ini nomor-nomor siapa?

AKBP Agus Suryanto: (dengan nada sangat jengkel dan marah) Ibu dengar aja! Tulis aja dulu nomor-nomor ini jangan kebanyakan nanya…!! Duit sejuta aja kebanyakan ngocehnya…!! Astagfirullaahhh..!!. (Duh.. bagian belakangnya itu lho… kok bisa-bisanya bilang “Astagfirullaahhh” pada saat melakukan kejahatan seperti ini?…harusnya aku dong yang bilang gitu? *tepok jidat seratus kali)

Aku: (pura-pura ketakutan..padahal gondok plus geli) Iya..iya pak saya catat…

Lalu si polisi gadungan itu menyebutkan 5 nomor hp bertiurut-turut. Inti instruksinya adalah aku diminta mengisi pulsa masing-masing 200ribu ke nomor-nomor itu. Selain itu Ia juga wanti-wanti untuk tidak memberitahu siapapun tentang transaksi ini.

AKBP Agus Suryanto: (dengan sangat kasar dan bernada mengancam) Pokoknya setelah telpon ini saya tutup, ibu harus segera mengirim pulsa itu secepatnya. Ini demi keselamatan anak ibu. Ingat bu, jangan sampai transaksi ini bocor kemana-mana.!! Ingat itu!!

Aku; (dengan nada cengengesan) OOOoo jadi gitu ya pak??

AKBP Agus Suryanto: (dengan nada bingung dengan perubahan suaraku yang tadinya memelas menjadi cengengesan) Iya. Betul bu, saya tunggu!!

Aku: (dengan nada tinggi dan marah) TAPI PAK..DENGER YAA.. SAYA TU GAK PUNYA ANAK PEREMPUAN YANG NAMANYA DEWI LESTARI!!! NGERTI GAK KALAU SEDARI TADI KAMU TU KUMAIN-MAININ HAAAA?? KAMU MAU NIPU YA??? GU****K BENER KAMU!! PENIPU KETIPU!!! KACIAN DEH KAMUUUU!!!

Klik!

Telpon langsung ditutup.

Satu jam setelah itu perutku kram nggak karuan gara-gara acting jadi orang bingung dan memelas tapi sambil menahan tawa ngakak dalam hati… Duuuuhhh sakitnya mulai berkurang setelah kuhabiskan dua gelas teh hangat.

Pelajaran dari peristiwa ini adalah: Mungkin harus lebih berhati-hati lagi untuk melakukan regristrasi apapun, entah mendaftar keanggotaan ( mini market, supermarket), langganan Internet, atau hal-hal yang berhubungan dengan pengisian data pribadi. Aku tidak tahu tepatnya darimana penipu (yang tertipu) itu mendapatkan nama dan hp ku. Yang terakhir kali kuingat adalah aku ditanyai nama dan no hp oleh seorang kasir di sebuah mini market untuk mendapatkan souvenir karena pembelanjaan sejumlah tertentu. Namun apakah iya karyawan-karyawan mini market yang tampaknya manis-manis itu melakukan hal yang ‘jorok” seperti itu? Atau ada suatu kesempatan lain dimana aku dengan kurang waspadanya meninggalkan data diriku di sebuah tempat yang tidak seharusnya?..ahh.. nggak tahu lah aku… *sudah malam…bobok dulu

 
3 Comments

Posted by on February 27, 2012 in cerita hari

 

Valentine dan Maksiat

Hari ini di beranda facebook saya penuh berisi status-status tentang Valentine. Ada menyatakan cintanya pada orang-orang yang dikasihinya, ada yang sekedar mengucapkan “Happy Valentine”, ada juga yang yang bercerita tentang banyaknya coklat yang mereka terima di hari ini… Woow…

Yang menarik, ternyata ada juga yang menanggapi negatif hari valentine. Bahkan terang-terangan ada yang memasang banner “Tolak Valentine Day, Jadikan 14 Febtruari sebagai hari menutup aurat Internasional”…Lhoo? kemana juntrungannya pemasang banner ini saya kurang mengerti. Apakah memang benar ada hubungannya Valentine dengan kemaksiatan? Apakah pada hari itu orang-orang akan bertelaanjang ria? Bukankah menutup aurat tidak hanya di hari Valentine?

Yang saya tahu, sejarah Valentine (seperti yang saya salin dari status seorang teman) adalah:

Valentine sebenarnya nama seorang biarawan katolik yg jadi martir. Dia dihukum mati oleh kaisar Claudius II krn menentang peraturan yg melarang pemuda Romawi menjalin hubungan cinta dan menikah krn mereka akan dikirim ke medan perang.
Di tengah ancaman kekuasaannya,Claudius II tak henti2nya merekrut kaum pria Romawi utk dikirim ke medan perang. Claudius II melarang kaum pria pacaran, bertunangan, bahkan menikah karna menurutnya ikatan kasih dan bathin dengan org yang dicintai hanya akan melembekkan daya tempur mereka.

Valentine, sang biarawan muda tak sampai hati melihat derita mereka yang dirundung trauma cinta . Diam-diam, dia memberikan siraman rohani pada mereka dan bahkan memberi mereka sakramen pernikahan. Akhirnya aksi ini tercium oleh Kaisar. Valentine dipenjara dan dijatuhi hukuman mati.

Di penjara, dia bersahabat dengan seorang petugas penjara bernama Asterius yg memiliki seorg putri yang buta bernama Julia. Julia sangat ingin sembuh dan Valentine berusaha menyembuhkannya dengan cara berdoa. Selama itu pula, Valentine mengajari sejarah dan agama, menjelaskan dunia semesta sehingga Julia dapat merasakan makna dan kebijaksanannya lewat pelajaran itu. Setiap kali Julia bertanya apakah Tuhan akan mendengar doanya setiap pagi yang meminta kesembuhan pada Tuhan, Valentine mengatakan “Tentu, Anakku. Asal kau percaya padaNya.”

Ketika tiba saat hukuman mati untuk Valentine, Valentine tidak sempat mengucapkan perpisahan dengan Julia, namun ia menuliskan ucapan dengan pesan untuk semakin dekat kepada Tuhan. Tak lupa ditambahi kata-kata, “Dengan cinta dari Valentine-mu” (yang akhirnya menjadi ungkapan yang mendunia). Ia pun wafat tanggal 14 Februari dan dimakamkan di Gereja Praksedes Roma.

Keesokan harinya , Julia menerima surat ini. Saat membuka surat, ia dapat melihat huruf dan warna-warni yang baru pertama kali dilihatnya. Julia sembuh dari kebutaannya. Beberapa waktu kemudian, Paus Gelasius I menyatakan 14 Februari sebagai hari peringatan St. Valentine.

Dari sejarah terjadinya hari Valentine, saya sama sekali tidak melihat adanya kemaksiatan di sini. Yang ada adalah perjuangan untuk menyatukan cinta, berbagi kasih dengan sesama, kerelaan berkorban demi cinta. Hhhmm apakah itu ada hubungannya dengan hal-hal yang jorok atau zina? Saya tidak tahu kemana mendapat jawabannya

Saya juga bukan orang yang suka merayakan Valentine dengan pesta-pesta atau hura-hura. Yang saya tahu Valentine adalah sarana bagi kita untuk mengingat kembali perjalanan hidup kita, apakah kita sudah cukup memperhatikan sesama? Apakah kita sudah berkorban untuk orang-orang disekitar kita? Apakah cinta sudah kita wujudnyatakan dalam kehidupan kita sehari-hari?

Berbagi kasih memang tidak harus selalu di hari Valentine. Kita bisa lakukan setiap hari. Sama seperti hari ibu, atau hari kemerdekaan,. Bukankah kita juga selalu menghormati ibu tidak hanya di hari ibu? Merasa merdeka tidak harus di tanggal 17 Agustus?

Valentine bukan perayaan sesaat, bukan pula hari jorok atau maksiat yang harus dilarang. Valentine hanya moment untuk mengingatkan seberapa jauh kita sudah berpegang pada cinta atas apapun yang sudah kita lakukan. Itu menurut saya.

.

 
Leave a comment

Posted by on February 14, 2012 in percikan perenungan

 

Self Publishing, so what?

Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang penulis selain hasil karyanya diterima penerbit dan dibaca orang banyak. Apalagi kalau karyanya itu menjadi bestseller… huwaaaaa…serasa sorga deh! Untuk itu kadang seorang penulis harus berusaha ekstra keras untuk bersikap “ndableg’ atau “rai gedeg” atau apa ya namanya? Pokoknya yang artinya nggak mau menyerah kalau naskahnya ditolak penerbit. Karena kadang penilaian masing-masing penerbit itu berbeda, jadi ditolak di satu penerbit, bukan berarti naskah penulis itu jelek, namun mungkin kurang sesuai dengan trend pasar saat itu, atau tidak sejalan dengan visi penerbit.

Ditolak berkali-kali oleh penerbit adalah makanan pokok para penulis. Konon semakin sering naskah kita ditolak, sharusnya semakin bertambah pupuk semangat kita untuk terus berkarya menjadikan naskah semakin baik lagi.

Namun kadang ada juga penulis yang putus asa dengan penolakan-penolakan penerbit itu. Self Publishing atau menerbitkan sendiri adalah jalan lain bagi penulis yang ngebet pengen punya buku. Pilihan ini cukup menggiurkan meski harus mengeluarkan isi kocek sendiri serta bersusah payah mengurusi pemasarannya. Tidak ada yang salah dengan self publishing, setiap penulis berhak memilih jalur penerbitannya sendiri. Meskipun dengan biaya dan usaha pemasaran sendiri, buku yang diterbitkan self publishing selalu layak untuk dihargai. Bukankah setiap buah pikir adalah unik? Dan pastinya membawa manfaat bagi pembacanya.

Ikut berkomentar dengan self publishing yang dilakukan oleh Aya Lancaster dalam novelnya Chronicels of the Fallen:Rebelliaon yang konon diterbitkan oleh penerbit luar negeri dan dijual di Eropa, Jepang, Singapura dan Amerika Serikat itu, saya hanya bisa bilang kenapa tidak? Apa salahnya?

Ini adalah satu lompatan yang bagus yang dilakukan oleh Aya untuk “mengadu nasib” di penerbit luar negeri, meskipun hanya self publishing. Kenyataannya dia memang sukses kok, karyanya di pajang di gerai buku online Amazon dan Barnes and Noble. Selain itu katanya novelnya itu juga sudah diresensi oleh Reader Digest… nah kurang hebat apanya toh?

Yang membuat polemik sebenarnya adalah ketidakjujuran Aya dalam menjelaskan bahwa Authorhouse, si penerbit novelnya itu ternyata “hanya”lah sebuah self publishing, yang berarti Aya sendiri yang membiayai penerbitan tersebut dan si Authorhouse hanyalah sebuah percetakan yang sanggup mencetak sesuai permintaan (print on demand)

Saya baca di fanpagenya Aya juga tampak sekali kalau Aya tidak mau menjawab pertanyaan tentang jati diri si penerbit ini. ia tampak berusaha menutup-nutupi dengan dalih bukan perwakilan dari penerbit. Padahal apa susahnya bilang “iya benar, novel saya memang hasil self publishing, so what?” Merujuk pada pernyataan saya di atas bahwa self publishing bukan sesuatu yang salah ataupun memalukan hingga perlu ditutup-tutupi, selayaknyalah Aya bersikap terbuka untuk menjelaskan bahwa novelnya memang hasil self publishing. Selesai bukan?

Mengenai pemberitaan di berbagai media yang mengatakan bahwa novel Aya ditolak dinegeri sendiri dan malahan terbit di luar negeri memang seolah memojokkan penerbit nasional di dalam negeri. Seolah penerbit kita begitu bodohnya menolak novel sekelas dunia. Padahal tidak bisa dibandingkan sebuah penerbit nasional yang harus melakukan seleksi super ketat dengan self publishing yang bisa menerbitkan karya apa saja asal sanggup membayar sejumlah tertentu.

Bicara self publishing, salah satu buku kumcer saya juga hasil penerbit Indie. Saya juga tidak malu dengan terbitnya buku itu, malahan dengan senang hati saya jelaskan ke kawan-kawan saya, “Ini nerbitin sendiri lhooo… jadi nggak dijual di toko offline. Kalo mau ikut jejakku buka aja webnya di www. blablabla”

Mungkin Aya kurang pede dengan novel self publishingnya… atau menganggap rendah sebuah penerbit mandiri…atau apalah saya kurang paham sehingga berat sekali baginya untuk mengakui keterlibatan sebuah self publishing dalam penerbitan novelnya yang konon populer di luar negeri tersebut. Entahlah…

 
3 Comments

Posted by on January 30, 2012 in percikan perenungan

 

SAHABAT RAHASIA

Cerita tentang persahabatan dan kesetiaan memegang komitmen adalah pesan dari novel anakku ini. Sudah mulai beredar di Gramedia dan Toga Mas.

Bukti terbit kuambil sendiri ke Yogya, di penerbit Andi karena buku ini terbit pas liburan. Daripada dikirim ke rumah yang tak berpenghuni karena sedang mudik, yo wis tak ambil sendiri.

Aku ketemu mbak Maya Artika, editorku yang selama ini cuma kukenal suaranya saja via telpon…Wah ternyata orangnya cantik dan masih muda. Trims ya mbak May!

 
Leave a comment

Posted by on January 3, 2012 in cerita hari

 

Latest Good News!

Yeahhh…hari ini mbak Ari Kinoysan mengumumkan 7 naskah cerita rakyat yang telah diacc penerbit…dan naskahku termasuk diantaranya… hi hi… senengnya…

“keputusan yang sudah keluar; naskah-naskah yang lolos berasal dari negara: jepang, australia, jerman, india, afrika selatan, china, dan inggris.”

demikian komen terakhir mbak Ari di thread pengumumannya di komunitas Penulis Buku Anak Griya Kinoysan. Naskah Jermanku masuk dan itu berarti buku ketigaku akan diterbitkan!

semangat..semangat…terus semangat dengan karya-karyaku yang lain…May God always leads me..

 
Leave a comment

Posted by on November 5, 2011 in cerita hari

 

Buku lagi!

“Teman-teman yang baik,

Alhamdulillah, seri cerita rakyat dunia diputuskan terbit.
Ini pemberitahuan cepat dari manajer pengembangan produk,
nanti pemberitahuan resmi, spp dan lain-lain berkaitan dengan
penerbitan akan saya susulkan. Harap sabar dan tidak usah ditunggu.
Kami akan mengurus dengan sebaik-baiknya. Terus saja menulis
sesuai program dan rencana masing-masing.

Mohon teman-teman yang menulis buku-buku tersebut
absen di komentar, agar saya ngecek bila ada yang terlewat
atau belum masuk list atau catatan saya.
Tidak perlu menyebutkan judul”.

Salam dan teruslah menulis.
Ari Kinoysan Wulandari
Griya Kinoysan

Begitulah postingan mbak Ari Kinoysan di wall grup Penulis Bacaan Anak yang aku ikuti…hadehhh betapa aku langsung terlonjak senang dengan berita itu. Kalau lancar, buku ketigaku akan terbit! Buku Cerita Rakyat Jerman! Duhaiii.. senengnya…

Meskipun mungkin masih menunggu kabar yang pasti dari penerbit tentang perlu tidaknya naskahku direvisi….yang jelas aku sudah lega duluan. Kalaupun ada revisi, pasti akan kukerjakan sebaik-baiknya…Terima Kasih mbak Ari!

Sementara itu beberapa hari sebelumnya, pengumuman pemenang nominasi audisi antologi horor di Pena Grage Community juga menyebut naskahku sebagai salah satu nominatornya. Fitria Pratnasari, admin dari grup itu memposting sebagai berikut:

MOHON DOA RESTU

gragers, mudahan-mudahan proyek The Real Grage Haunted kita yang pertama berjalan lancar ya? kini sudah masuk dapur redaksi
beberapa cerita keren harus revisi baik isi maupun judulnya untuk kepentingan penerbitan. selanjutnya diserahkan pada pihak penerbit. berikut ini naskah yang kemarin sempat masuk dalam event ini:

… 1. Mawar Berdarah – Fitria Pratnasari
2. Brain Of The Death – Intan Rahayu
3. Misteri 33 – Dee Dayantri

4. Sendakala – Nur Ismeli
5. Simfoni Hitam – Erma Rosdiana D
6. Pocong PDKT – Ari Keling
7. Hantu Noaka – Nenny Makmun
8. Jabang Merah – Tya Marty
9. Hutang Nyawa – Delia Angela
10.The Guardian – Nelly Gultom
11.Pinjami Aku Tubuh – Tantrini Andang
12. The Perfume – Lina Hardianti
13.Tuyul On Line – Fitria Pratnasari

meskipun naskah di atas dianggap lulus, tetapi peranan Editor Penerbit tetap menjadi keputusan yang mutlak.

bagi yang belum berhasil, tetap semangat ya?
salam karya,

Waduhhh.. rejeki Tuhan memang tidak disangka-sangka. Antologi horor adalah sesuatu yang baru bagiku. Sangat sulit untuk memulai merajut kata-kata yang biasanya kuperuntukkan bagi pembaca anak-anak, menjadi kata-kata “menyeramkan” bagi pembaca yang lebih dewasa… namun syukurlah… usahaku tidak sia-sia.

Meskipun masih menunggu kesepakatan dengan pihak penerbit, paling tidak ini adalah satu langkah kecil lagi yang telah kuukir dalam karir kepenulisanku. May God bless me!

 
Leave a comment

Posted by on November 1, 2011 in cerita hari

 

Bahagia itu Sederhana Saja

Apakah yang menjadi kebahagiaanmu? Apakah kalau kamu bergelimang uang dan hidup mewah? Apakah kalau kamu mendapat pasangan yang cantik/ganteng? Apakah kalau kamu menjadi idola orang banyak? Atau di saat kamu mendapatkan sesuatu yang sudah kamu impikan sejak lama?

Kebahagiaan semacam itu sah-sah saja dan sangat manusiawi. Semuanya itu adalah hal-hal umum yang memang dikejar oleh manusia selama kita masih hidup.

Namun sadarkah kita bahwa kadang bahagia itu bisa kita dapatkan dari hal-hal yang sangat sederhana?
Misalnya pagi tadi aku merasa sangat senang saat si kecilku makan dengan lahapnya, padahal dia paling bandel kalau masalah makanan. Juga kurasakan betapa nyamannya duduk sambil membaca buku favoritku saat menunggu si kecil bersekolah. Hari cerah dan tubuhku terasa fit melakukan segala aktifitas hingga sore hari, itu sebuah anugerah juga bukan?

Hal kecil lain juga kurasakan betapa senangnya melihat ekspresi beberapa anak jalanan yang mengamen di lampu merah. Mereka bersorak riang saat kubayar lagunya dengan sebungkus biskuit coklat. Aku memang selalu menyediakan makanan kecil atau permen di dashboardku, khusus untuk anak-anak semacam itu. Daripada uang receh, aku lebih suka mengulurkan kue atau makanan lain untuk mereka. Dan itu cukup membuat mereka senang.

Melihat anak-anak itu tertawa riang, itu juga kebahagiaan bukan?

 
Leave a comment

Posted by on October 12, 2011 in percikan perenungan

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.