Filosofi Kedelai
Apa yang terpikir pertama kali saat kita tahu kata “kedelai”? putih, bulat, tempe, tahu, susu, vitamin, murah, bau langu…apa lagi?
Yah kedelai memang jenis kacang yang murah dan gmpang di dapat di negeri kita ini. Namun meskipun murah, kedelai banyak manfaatnya. Times of India menyebutkan bahawa kedelai mengandung 13 nutrisi penting. Yaitu, protein berkualitas tinggi, asam lemak omega 3, asam lemak omega 6, kalsium, magnesium, besi, serat, asam folat, vitamin B1, B2, dan B6, kalium dan fosfor, dan seng. Menurut The American Heart Association, kedelai merupakan sumber protein yang berkualitas paling baik untuk para vegetarian. Kandungan kolesterol alami dan bebas laktosa, serta kandungan asam lemak esensial seperti omega 3 dan omega 6, membuat kedelai sangat direkomendasikan untuk orang-orang dengan gangguan jantung, diabetes dan darah tinggi.
Begitu bermanfaatnya kedelai hingga beberapa penelitian menyebutkan kalau kacang kedelai merupakan “makanan super” karena kandungan nutrisinya yang sangat tinggi dan bisa memenuhi kebutuhan tubuh dalam porsi yang hampir sempurna.
Kedelai bisa berubah bentuk menjadi tempe atau tahu, lauk pauk yang sangat populer di masyarakat kita. Selain itu, kedelai juga bisa disajikan dalam bentuk juice, jadilah susu kacang kedelai. Mana yang memenuhi selera kita, tahu, tempe atau susu, semuanya menyajikan manfaat yang sama.
Namun begitu kadang orang kurang cocok dengan bau kedelai yang langu. Dalam bentuk apapun, tempe, tahu maupun susu, aroma khas kedelai ini tidak bisa hilang. Kedelai tetap menampilkan identitasnya sebagai kedelei.. Baunya yang khas menyempurnakan kehadirannya meski ia telah diolah dalam bentuk beraneka ragam makanan.
Itulah filosofi kedelai. Sebuah keteguhan mempertahankan eksistensi. Jujur menampilkan diri apa adanya. Kedelai dapat dikenali dari baunya, bahkan rasanya. Meski banyak orang tidak terlalu suka, namun karena besarnya manfaat yang ditawarkan, orang tetap mengkonsumsi kedelai.
Bersikap jujur memang butuh ketegaran dan prinsip yang kuat. Apalagi di masa sekarang dimana kebenaran justru di musuhi dan dicaci maki. Yang salah dianggap wajar dan yang benar dianggap salah. Meski begitu seharusnyalah kita tetap seperti kedelai yang tetap menunjukkan aroma dirinya yang kadang ditolak oleh banyak orang, namun tetap mampu menawarkan manfaat yang berlebih, meski dalam beraneka bentuk yang berbeda.
Tetaplah berpegang pada kejujuran, meskipun itu tidak populer, bahkan menuai kritik dan cacian. Yakinlah, bahwa tetaplah terhormat bagi mereka yang menegang teguh kejujuran dan kebenaran. Jujur Itu Hebat!
(Untuk ibu Siami dan Alif)
terus terang, walau sadar akan manfaat kedelai (bukan keledai, kan?), saya tetap tidak suka bau dan rasa susu kedelai. bagaimana biar suka, ya?
Sabjan Badio - June 18, 2011 at 3:10 pm |